Proposal


Go
Go with the wind as far as you can
Leave all the pain that hurt you so much
Leave everything that killing your soul
I know you want to be free
I know you want to dissapear
But you can’t
Just can’t
There’s someone who need you most
Someone who want you to still alive
And these someone is you
Yourself
Do you want to still alive?
Do you want to still alive
with all the most painful feeling ever with me?
There’s no answer
I think the answer is no
So, good bye

Advertisements

Dua Pagi


Pukul dua pagi. Hanya terdengar suara jangkrik, tuts keyboard notebook dan bunyi perut yang kadang-kadang berbunyi nyaring dan kadang-kadang berbunyi sangat nyaring. Juga alunan Rebahan milik Bin Idris yang sedari tadi sengaja menjadi satu-satunya lagu yang ada di pemutar musik.

Seperti biasa, kau mencoba untuk tidur, tapi selalu gagal dan berujung menikmati sunyi seperti ini. Dan biasanya, setelah menyerah untuk tidak memaksa tidur, kau menghabiskan waktu dengan menjelajah ke dunia maya. Tapi, kau sendiri pun tahu, kau tidak benar-benar pergi ke sana. Kau hanya sengaja tersesat di sana. Kau tidak tahu ingin pergi ke mana.

Di benakmu, banyak hal-hal yang merayu ingin keluar dan bertanya akan segalanya. Seperti tentang orang-orang yang berdebat mengenai bumi yang bulat dan datar, tentang orang-orang yang tidak sengaja kau temui sepanjang hari ini, tentang Dion Wiyoko yang walaupun sudah muncul punya uban tetapi masih menjadi salah satu aktor favorit di matamu, dan tentang janji yang terpaksa batal karena Samarinda tidak sesempit yang kau pikir.

Tapi, di antara tentang-tentang itu, ada satu hal yang sampai sekarang menjadi pertanyaan terbesarmu, “Apakah aku sejahat ini?”. Pertanyaan itu terus kau ulang sampai kau merasa perutmu terisi penuh dengan jus alpukat yang rasanya lebih mirip dengan durian. Mual, tapi tidak bisa kau muntahkan karena kau hanya minum air mineral beberapa hari ini. Selamat, kau membohongi dirimu sekali lagi.

Kemudian kau mengira-ngira apakah karena kau mewarisi gen dari Castor dan Pollux sehingga terlalu banyak oksimoron berserakan di hidupmu. Lalu, kau membayangkan mereka berdua berduel di dalam otakmu untuk menentukan siapa yang berhak mendominasi hari ini. Lalu, tiba-tiba kau dikejutkan dengan Dewi Leda yang berubah menjadi Kak Ros dan menjitak kepala Upin dan Ipin karena memainkan tepung terigu untuk memasak ayam goreng.

Dan pada akhirnya, kau terkekeh melihat tulisanmu sendiri.

 

Melarikan Diri


Perayaan pergantian tahun dari 2016 ke 2017 saya lalui di sebuah tempat baru dengan historis masa kecil yang masih terlihat, beberapa orang baru, beberapa orang lama dan beberapa lamunan yang masih berkutat manis di tempatnya.

Walaupun mengantuk, hal yang saya lakukan pulang dari keliling kota adalah menyalakan laptop dan memutar video klip Runaway-nya Kanye West. Tiba-tiba kepengin. Dan diputar berulang-ulang.

Ketukan tuts piano yang itu-itu aja tapi enak dan mbak-mbak ballerina yang apik banget gerakkannya yang ngebuat saya jatuh hati pertama kali dengan lagu ini pas lagi gonta-ganti channel TV di rumah. Tapi, setelah saya memutar kembali lagu ini di awal tahun ini, ada yang baru saya sadari: liriknya relevan dengan apa yang saya alami jelang 2016 berakhir.

I always find something wrong.

Bukan sekali dua kali saya menipu diri saya bahwa semua akan berakhir baik-baik saja. Tapi, untuk kali ini, bukan saja saya menipu diri saya sendiri, tapi juga kehilangan kepercayaan dengan beberapa orang yang saya anggap bisa saya percaya. Sedih. Banget.

I’ll give my best to the people who trust me. But, when you play with it, you’ll lost my trust. Percakapan dengan seorang teman dini hari ini pun merajuk pada mahalnya kepercayaan di atas label koneksi yang ada. Siapa sih yang gak nggerus ketika kamu harus menerima kenyataan pahit kayak gini? Untuk menertawakan hal ini pun, rasanya kayak ngunyah aspirin. Gak enak, tapi harus tetap dikunyah supaya migrennya gak kumat lagi. Apeu.

Jadi, dua hal pertama yang menjadi pelajaran di tahun yang masih ranum ini: hati-hati dalam hal apapun dan lari dari hal yang bikin hati capek.

Selamat menjalani taun 2017, semuanya!

On The Records: SARANA


Alkupra WordPress

Sebagai sebuah aliran musik yang lahir dari memanfaatkan bebunyian ganjil dan bising yang dianggap polusi suara menjadi estetika tersendiri dengan cara yang imajinatif, noise pada hakikatnya adalah genre yang sukar untuk diapresiasi telinga umum. Niche dan tidak terpaku pakem apapun, noise dan para pengusungnya mungkin tidak akan merajai chart tangga lagu radio mainstream dalam waktu dekat, namun menampiknya begitu saja tanpa berusaha membuka telinga dan pikiran adalah satu hal yang patut disayangkan. Untungnya, Indonesia tidak pernah kehabisan aksi noise yang mumpuni, dan Sarana adalah satu nama yang sedang mengorbit pesat. Datang dari Samarinda, Kalimantan Timur, Sarana terdiri dari Annisa Maharani, Istanara Julia Saputri, dan Sabrina Eka Felisiana yang bertemu saat menjadi panitia Record Store Day East Borneo tahun lalu sebelum memutuskan membentuk unit experimental dark ambient yang namanya diambil dari akronim dua huruf terakhir ketiganya ini. Dengan kejelian mereka meracik bebunyian yang lahir dari efek gitar, kaosilator, monotron spoken words

View original post 885 more words

The Book of Forbidden Feelings


Beberapa waktu yang lalu, panel explore feed di Instagram saya dipenuhi dengan gambar buku ini, The Book of Forbidden Feelings karya Lala Bohang. Sekilas, tampilan awal buku ini seperti tugas kuliah yang dijilid dengan cover yang menggunakan font berjenis Serif serta sebuah coretan kecil yang rumit. Sederhana. Tapi, tunggu sampai kamu melihat isi dari buku ini!

1470055597896[1]

Membuka buku ini seperti sedang menjelajah ke dalam hati dan pikiran seseorang, Di sana, kamu bisa menemukan hal-hal biasa yang sebenarnya bisa terjadi kepada siapa saja, namun bagi beberapa orang, hal-hal tersebut bisa saja mempunyai makna yang dalam.

I swear, you will love it! Foto: Penulis

Lewat buku ini, Lala berusaha mengekspresikan  perasaan-perasaan tersebut melalui kata-kata yang ia rangkai dan gambar yang ia ciptakan. Antara kata dan ilustrasi yang ada di dalam buku ini pun masing-masing saling berkaitan dan menciptakan makna di dalam benak.

1470055607606[1]

Buku ini masuk ke dalam daftar buku yang menurut saya tak bisa hanya sekali saja dibaca. Karena, selain ilustrasi surealis yang digambar oleh Lala sangatlah ‘bernyawa’, tulisan-tulisan yang di dalam buku ini pun juga banyak sekali yang saya amini seringkali terjadi. Maaf jika review

1470055600956[1]

ps: review ini juga dapat kalian baca di http://undas.co/2016/08/the-book-of-forbidden-feelings/

Perjalanan


Hidup itu… Perjalanan.

Dan kamu yang berhak untuk menentukan segalanya. Kamu bisa menjadi seorang pejalan kaki yang menyusuri tapak demi tapak gang sempit yang berada di pemukiman pada penduduk. Kamu bisa menjadi seorang supir yang membawa mobil sport keluaran terbaru dengan kecepatan penuh di jalan yang lengang. Dan kamu juga bisa menjadi seorang nahkoda sebuah kapal yang berlayar menuju sebuah pulau yang belum pernah kamu singgahi sebelumnya.

Tapi… Perjalanan tak selamanya akan mulus, bukan?

Tak selamanya sepatu yang kamu kenakan dan kamu sangat sayangi akan menemanimu hingga kamu sampai di tempat tujuan. Bisa saja, sepasang sepatumu tiba-tiba robek atau karena solnya sudah aus, membuat kamu tergelincir karena medan yang licin. Tak selamanya mobil yang kamu kendarai akan meluncur laju. Bisa saja, kamu harus sabar dengan macetnya jalan raya ibukota yang pengap dengan asap knalpot dan makian orang-orang yang ingin segera terbebas dari kepungan kuda-kuda besi di atas aspal atau ban mobilmu tiba-tiba  pecah ketika sedang melewati jalan yang di kanan kirinya hutan. Bisa saja, kapal yang sedang kamu naiki tiba-tiba bocor dan menunggu karam karena lambung kapalmu menabrak sebuah karang yang tak kamu lihat dari atas. Tak ada yang tahu, perjalananmu akan seperti apa nantinya.

Sudah siap untuk berjalan?